3 tahun bukan waktu sebentar
untuk sekedar menghapus hal-hal kecil di memori ini... mahasiswa yang hanya
tinggal beranjak ke ujung perjuangan, usai laporan tugas akhir dan tersisa
usaha ketikan tangan mungil untuk merampungkan laporan magang.
Kotak ukuran 3,5 x 3 meter lantai atas yang dihuni oleh 2 pasang mata
gadis, aku dan teman dari SMA dulu yang bergandengan hingga detik masa
pendewasaan. Kotak kecil bagian dari kotak besar yang dihuni beberapa pasag mata dara menjadi sejarah hidup perjalanan panjangku
menempuh pendidikan demi buah kebangggan. Ada kotak-kotak kecil lain
berdampingan dibagian bawah yang dihuni oleh beberapa pasang mata, dua pasang
diantaranya juga teman seperjuanganku sejak aku duduk di bangku SMA. Hari ini
waktunya ku injakkan kaki menjauhi kotak ini perlahan. Ketika ku geserkan bola
mata ke arah keliling masih ada sisa-sisa note kecil kuning bertuliskan
target-target jangka pendek dan panjangku,hiasan dinding, peralatan make-up serta
tumpukan kitab kuliah dan itu membuat
dada ini sedikit sesak.
Tak jarang pagi-pagi terbangun
oleh suara ceramah islami yang bersumber dari ruangan depan tempat si empunya
singgah, bahkan setiap saat beliau menegur dengan sangat perhatian, menasehati
kurcaci-kurcaci kecilnya yang seolah bertindak tak ada benar dimatanya. Bisa dibilang
nenek perfeksionis yang pernah kukenal. Beliau
didampingi oleh 2 putranya dan satu cucu putri kecil yang siap menggeluyuti
setiap pasang mata penghuni kotak-kotak kecil itu. Terkadang saat fajar mulai
menyingsing putri kecil itu membangunkan setiap mata penjuru kotak, putri kelas
2 SD dengan otak penuh ide kreatif, kemana saja ia melangkah akan meninggalkan
beberapa bekas entah mainan, barang, hingga koleksi komik tipis kesukaannya “TUTU”.
Terbesit di kacamata ini kotak yang selama ini jadi saksi bisu perjuanganku berkutat dengan tugas-tugas kuliah, merenung, menangis, saling mencurahkan hati pada pasang mata lain. Sejenak juga pernah berfikir jika
aku meninggalkan kotak ini akan ada masa hilang dimana aku tak bisa naik turun
tangga lagi untuk pergi kekamar mandi, beli makan, menontn TV bersama adik-adik
tingkat yang sehunian. Menonton TV adalah bagian modus, sebenarnya bukan TVnya yang
ditonton, tapi hanya sebagai selingan back
song ketika aku dan teman-teman membicarakan hal yang tidak berkualitas dan
ujungnya ngrumpi. Akan hilang juga
masa dimana suara penghuni bawah memecahkan gendang telingaku saat mata ini tak
mau diajak kompromi untuk terbuka dan ingin sejenak merasakan sunyi.
Ada 4 pasang kaki yang akan
meninggalkan 2 kotak kecil ini. Aku dan teman seperjuanganku tadi, empat gadis
yang kata orang tidak bisa ketinggalan
salah satunya. Dulunya satu SMA “SMAN 1 PURWOHARJO” , pas kuliah dapat 1
jurusan yang sama “POLIJE, peternakan”, satu golongan “A”, satu kos “kos 147”,
dan mengikuti satu keguiatan UKM yang
sama “paduan Suara”. Kini melangkahkan kaki ke kotak baru yang selokasi juga. Entah ini takdir Tuhan
atau sudah menjadi bagian pilihan insan.
Kotak kecil kami yang baru
terletak di baratnya pesantren. Nuansa islam yang kental pastinya didapat
disini. Semoga ini menjadi titik awal yang baik untuk mata melihat yang baik,
telinga untuk mendengar yang positif, mulut untuk selalu melantunkan ucapan
yang baik, tangan untuk memegang yang baik, kaki untuk melangkah kearah yang baik, hati
untuk jadi sumber yang baik, dan fikiran ini untuk merenungkan yang baik untuk
kedepannya.