Label

Rabu, 30 September 2015

Selamat tinggal kotak lama 147, selamat datang kotak kecil barat PESANTREN



3 tahun bukan waktu sebentar untuk sekedar menghapus hal-hal kecil di memori ini... mahasiswa yang hanya tinggal beranjak ke ujung perjuangan, usai laporan tugas akhir dan tersisa usaha ketikan tangan mungil untuk merampungkan laporan magang.
Kotak ukuran 3,5 x 3 meter  lantai atas yang dihuni oleh 2 pasang mata gadis, aku dan teman dari SMA dulu yang bergandengan hingga detik masa pendewasaan. Kotak kecil bagian dari kotak besar  yang dihuni beberapa pasag  mata dara menjadi sejarah hidup perjalanan panjangku menempuh pendidikan demi buah kebangggan. Ada kotak-kotak kecil lain berdampingan dibagian bawah yang dihuni oleh beberapa pasang mata, dua pasang diantaranya juga teman seperjuanganku sejak aku duduk di bangku SMA. Hari ini waktunya ku injakkan kaki menjauhi kotak ini perlahan. Ketika ku geserkan bola mata ke arah keliling masih ada sisa-sisa note kecil kuning bertuliskan target-target jangka pendek dan panjangku,hiasan dinding, peralatan make-up serta tumpukan kitab kuliah  dan itu membuat dada ini sedikit sesak.
Tak jarang pagi-pagi terbangun oleh suara ceramah islami yang bersumber dari ruangan depan tempat si empunya singgah, bahkan setiap saat beliau menegur dengan sangat perhatian, menasehati kurcaci-kurcaci kecilnya yang seolah bertindak tak ada benar dimatanya. Bisa dibilang nenek  perfeksionis yang pernah kukenal. Beliau didampingi oleh 2 putranya dan satu cucu putri kecil yang siap menggeluyuti setiap pasang mata penghuni kotak-kotak kecil itu. Terkadang saat fajar mulai menyingsing putri kecil itu membangunkan setiap mata penjuru kotak, putri kelas 2 SD dengan otak penuh ide kreatif, kemana saja ia melangkah akan meninggalkan beberapa bekas entah mainan, barang, hingga koleksi  komik tipis kesukaannya “TUTU”.
Terbesit di kacamata ini kotak yang selama ini jadi saksi bisu perjuanganku berkutat dengan tugas-tugas kuliah, merenung, menangis, saling mencurahkan hati pada pasang mata lain. Sejenak juga pernah berfikir jika aku meninggalkan kotak ini akan ada masa hilang dimana aku tak bisa naik turun tangga lagi untuk pergi kekamar mandi, beli makan, menontn TV bersama adik-adik tingkat yang sehunian. Menonton TV adalah bagian modus, sebenarnya bukan TVnya yang ditonton, tapi hanya sebagai selingan back song ketika aku dan teman-teman membicarakan hal yang tidak berkualitas dan ujungnya ngrumpi. Akan hilang juga masa dimana suara penghuni bawah memecahkan gendang telingaku saat mata ini tak mau diajak kompromi untuk terbuka dan ingin sejenak merasakan sunyi.
Ada 4 pasang kaki yang akan meninggalkan 2 kotak kecil ini. Aku dan teman seperjuanganku tadi, empat gadis yang kata orang  tidak bisa ketinggalan salah satunya. Dulunya satu SMA “SMAN 1 PURWOHARJO” , pas kuliah dapat 1 jurusan yang sama “POLIJE, peternakan”, satu golongan “A”, satu kos “kos 147”, dan mengikuti  satu keguiatan UKM yang sama “paduan Suara”. Kini melangkahkan kaki ke kotak baru  yang selokasi juga. Entah ini takdir Tuhan atau sudah menjadi bagian pilihan insan.
Kotak kecil kami yang baru terletak di baratnya pesantren. Nuansa islam yang kental pastinya didapat disini. Semoga ini menjadi titik awal yang baik untuk mata melihat yang baik, telinga untuk mendengar yang positif, mulut untuk selalu melantunkan ucapan yang baik, tangan untuk memegang yang baik,  kaki untuk melangkah kearah yang baik, hati untuk jadi sumber yang baik, dan fikiran ini untuk merenungkan yang baik untuk kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar