Hikmah MAGANG mu apa?”
Riuh
aliran sisa percikan wudhu saat wajah ini terbasuh, subuh yang tak seperti
biasa, basuhannya menembus tulang. Ternyata sakit ini tak sembuh juga, dingin
menyebabkan nafas harianku terhambat akibat flu. Ya bukan hanya hidung aneh
ini, bahkan kulitku juga mulai berubah warna bintik kemerahan. Saat ini aku
bukan ditempat naungan biasaku ada, namun singgah sementara di perantauan kota
lain, kota paling dingin yang pernah kusinggahi, Salatiga Semarang.
Jika pembaca bertanya mengapa
saya bisa hijrah di sini? ,
Saya
mahasiswi tingkat akhir yang sedang melaksanakan Tugas Magang, beberapa bulan
lalu saya sempat darah ini dalam rangka kunjungan lapang semester, sejak
berinjak kaki di pabrik susu kota ini, perutku yang mual akibat perjalanan
dialihkan oleh imajinasi untuk singgah ditempat ini, ditambah oleh unjukan susu
produk pabrik mengingatkanku dengan rasa es lilin yang dulu pernah ku langgani
saat masih SMP.
Benar-benar
sejuk dari raga, disambut oleh manajer dan beberapa karyawan yang murah senyum
dan tuturnya, hening sejenak dan berimajinasi untuk praktek keja disini.
Berbagai info ku lacak dari mulai dosen, kakak tingkat yang pernah magang
sebelumnya serta tak lupa keyboard
laptop kesayangan ku otak-atik demi mencari referensi tentang perusahaan itu,
hingga akhirnya pada saat pembagian kelompok magang aku mengajukan lokasi
disitu dan tuhan meridhoi dengan melancarkan inginku.
Bukan
sekedar bekerja, tapi cari info yang bisa dikuak untk melanjutkan karya torehan
pena dalam laporan magang , salah satu dosen mengingatkanku tentang hal itu.
Hari pertama kerja di lapang serasa dunia teori dan penerapan praktek sangat
berbeda, karena aku adalah mahasisi
peternakan, jadi lokasi minggu pertamaku
di kandang sapi perah. Mulai dari pemberian pakan, cara mencampur konsentrat,
memotong hijauan dengan mesin , yang paling kusuka dan menantang adalah memerah menggunakan
mesin, menyenangkan ketika jemari ini benar-benar dapat mengoprasikan mesin
namun menantangnya adalah badab kecil yangmembungkung jarak 10 cm dari kaki
sapi, bayangkan ketika sapi tersebut dapat membuatku terbaring dirumah sakit
akibat sepakan kakinya. Sangat terasa keringat yang biasa jarang keluar kini
dapat terperas, namun dengan ini aku
sadar begini ternyata seorang yang berjuang keras, tak jarang pula titikan air
mata teringat perjuangan ayah ibuku.
“aku bukan terlahir dari insan yang berharga dalam tahta dunia, namun aku
ada berkat titipan Tuhan pada dua insan serupa malaikat pejuang keras, aku yang
nantinya akan tumbuh memberi bunga kebanggaan dan titik air mata bahagia pada
dua insan itu”
Minggu
selanjutnya aku berada dalam ruang berbeda, putih bersih jas yang ku pakai
sembari kaki ini menginjak lantai laboratorium Quality Control. Saat ini kerja dilanjutkan ke pabrik produksi susu
homogenisasi, di sini kutemukan kesenangan batin dan jiwa kerja yang sesuai
saat peran sementaraku menjadi analisis, berbagai uji kualitas susu kuterapkan dengan arahan para guru baruku yang sedikit
jail namun terkadang teoritis. Sayangnya hanya bertahan 4 hari di laboratorium
meski berat sunguh melapas tangan ini dengan tabung dan pipet. Sisa hari
kuhabiskan dengan menggerakkan tangan yang mulai terampil menata cup produk dan bertatap muka dengan
insan yang berbeda tiap harinya.
Seandainya
bisa akan kulepas tangan dan punggung ini ketika rasa jenuh nan lelah melanda,
peranku sekarang menjadi karyawan pabrik yang haringa penuh dengan olahraga
teratur dengan gerakan tangan serempak dengan pemilik tangan lainnya. Pukul 08.00 kumulai
gerakan hingga pukul 16.00 baru kudapat meletakkan diri ini pada tempat yang
sejuk dan nyaman, kamar kosku. Sembari merebahkan tubuh di kasur, analisa dan
evaluasi kerja mulai ku kembangkan dalam pikiran, mencari sesuatu baru yang
perlu di tuliskan dalam bab pembehasanku.
Malam-malamku
habiskan dengan kombinasi senda gurau dengan kawan sekelompok,
mengotak-atik handphone dan laptop
untuk sejenak melepas rindu pada ayah ibuku nan jauh singgahnya, membuka
referensi sembari menghabiskan tinta bolpoin di lembar laporan harian, tak
jarang pula ku coba menjalin kekeluargaan dengan ikut ibu kos ngaji tahlil di
rumah kerabatnya. Ibu kos yang jadi ibu keempat yang ku hormati setelah ibuku,
ibuku, dan ibuku, rindu ini semakin menggebu. Namun kerinduan ini akan segera
terhempas angin karena praktek kerjaku tinggal tak genap dari seminggu.
Benar,
disini aku merasa belajar banyak hal penerapan kesinambungan teori dengan
praktek di lapang, namun yang menimbulkan sesak nafas dadaku ketika
renungan usai sholat membayangkan betapa beratnya kerja keras orang tua selama
ini demi kelanjutan hidupku, namun beliau mencoba tersenyum walau mungkin
tangan dan kakinya sudah mulai jenuh bergerak. Benakku berangan “Aku ingin
menjadi pendampingmu ayah, bunda , sudah saat ini biar kaki tangan kecil ini
yang bergerak walau lamban, walau tak sekeras tangan kakimu memberiku kasih
selama hidupku ini”
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS. Luqman ayat 14)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar