Label

Jumat, 10 April 2015



Hikmah MAGANG mu apa?”

Riuh aliran sisa percikan wudhu saat wajah ini terbasuh, subuh yang tak seperti biasa, basuhannya menembus tulang. Ternyata sakit ini tak sembuh juga, dingin menyebabkan nafas harianku terhambat akibat flu. Ya bukan hanya hidung aneh ini, bahkan kulitku juga mulai berubah warna bintik kemerahan. Saat ini aku bukan ditempat naungan biasaku ada, namun singgah sementara di perantauan kota lain, kota paling dingin yang pernah kusinggahi, Salatiga Semarang.
Jika pembaca bertanya mengapa saya bisa hijrah di sini? ,
Saya mahasiswi tingkat akhir yang sedang melaksanakan Tugas Magang, beberapa bulan lalu saya sempat darah ini dalam rangka kunjungan lapang semester, sejak berinjak kaki di pabrik susu kota ini, perutku yang mual akibat perjalanan dialihkan oleh imajinasi untuk singgah ditempat ini, ditambah oleh unjukan susu produk pabrik mengingatkanku dengan rasa es lilin yang dulu pernah ku langgani saat masih SMP.
Benar-benar sejuk dari raga, disambut oleh manajer dan beberapa karyawan yang murah senyum dan tuturnya, hening sejenak dan berimajinasi untuk praktek keja disini. Berbagai info ku lacak dari mulai dosen, kakak tingkat yang pernah magang sebelumnya serta tak lupa keyboard laptop kesayangan ku otak-atik demi mencari referensi tentang perusahaan itu, hingga akhirnya pada saat pembagian kelompok magang aku mengajukan lokasi disitu dan tuhan meridhoi dengan melancarkan inginku.
Bukan sekedar bekerja, tapi cari info yang bisa dikuak untk melanjutkan karya torehan pena dalam laporan magang , salah satu dosen mengingatkanku tentang hal itu. Hari pertama kerja di lapang serasa dunia teori dan penerapan praktek sangat berbeda, karena  aku adalah mahasisi peternakan, jadi  lokasi minggu pertamaku di kandang sapi perah. Mulai dari pemberian pakan, cara mencampur konsentrat, memotong hijauan dengan mesin , yang paling kusuka  dan menantang adalah memerah menggunakan mesin, menyenangkan ketika jemari ini benar-benar dapat mengoprasikan mesin namun menantangnya adalah badab kecil yangmembungkung jarak 10 cm dari kaki sapi, bayangkan ketika sapi tersebut dapat membuatku terbaring dirumah sakit akibat sepakan kakinya. Sangat terasa keringat yang biasa jarang keluar kini dapat terperas, namun  dengan ini aku sadar begini ternyata seorang yang berjuang keras, tak jarang pula titikan air mata teringat perjuangan ayah ibuku.

“aku bukan terlahir dari insan yang berharga dalam tahta dunia, namun aku ada berkat titipan Tuhan pada dua insan serupa malaikat pejuang keras, aku yang nantinya akan tumbuh memberi bunga kebanggaan dan titik air mata bahagia pada dua insan itu”

Minggu selanjutnya aku berada dalam ruang berbeda, putih bersih jas yang ku pakai sembari kaki ini menginjak lantai laboratorium Quality Control. Saat ini kerja dilanjutkan ke pabrik produksi susu homogenisasi, di sini kutemukan kesenangan batin dan jiwa kerja yang sesuai saat peran sementaraku menjadi analisis, berbagai uji kualitas susu kuterapkan  dengan arahan para guru baruku yang sedikit jail namun terkadang teoritis. Sayangnya hanya bertahan 4 hari di laboratorium meski berat sunguh melapas tangan ini dengan tabung dan pipet. Sisa hari kuhabiskan dengan menggerakkan tangan yang mulai terampil menata cup produk dan bertatap muka dengan insan yang berbeda tiap harinya.
Seandainya bisa akan kulepas tangan dan punggung ini ketika rasa jenuh nan lelah melanda, peranku sekarang menjadi karyawan pabrik yang haringa penuh dengan olahraga teratur dengan gerakan tangan serempak dengan  pemilik tangan lainnya. Pukul 08.00 kumulai gerakan hingga pukul 16.00 baru kudapat meletakkan diri ini pada tempat yang sejuk dan nyaman, kamar kosku. Sembari merebahkan tubuh di kasur, analisa dan evaluasi kerja mulai ku kembangkan dalam pikiran, mencari sesuatu baru yang perlu di tuliskan dalam bab pembehasanku.
Malam-malamku habiskan dengan kombinasi senda gurau dengan kawan sekelompok, mengotak-atik  handphone dan laptop untuk sejenak melepas rindu pada ayah ibuku nan jauh singgahnya, membuka referensi sembari menghabiskan tinta bolpoin di lembar laporan harian, tak jarang pula ku coba menjalin kekeluargaan dengan ikut ibu kos ngaji tahlil di rumah kerabatnya. Ibu kos yang jadi ibu keempat yang ku hormati setelah ibuku, ibuku, dan ibuku, rindu ini semakin menggebu. Namun kerinduan ini akan segera terhempas angin karena praktek kerjaku tinggal tak genap dari seminggu.
Benar, disini aku merasa belajar banyak hal penerapan kesinambungan teori dengan praktek di lapang, namun  yang  menimbulkan sesak nafas dadaku ketika renungan usai sholat membayangkan betapa beratnya kerja keras orang tua selama ini demi kelanjutan hidupku, namun beliau mencoba tersenyum walau mungkin tangan dan kakinya sudah mulai jenuh bergerak. Benakku berangan “Aku ingin menjadi pendampingmu ayah, bunda , sudah saat ini biar kaki tangan kecil ini yang bergerak walau lamban, walau tak sekeras tangan kakimu memberiku kasih selama hidupku ini”
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS. Luqman ayat 14)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar