21th
my birthday (01 November 2015)
I was
happy.. thanks God
21 mungkin bukan
angka yang spesial bagi mayoritas penguasa bumi. Namun angka ini menjadi
sesuatu yang meyimpan beberapa makna hidup bagi sosok kecil penangis malam yang
selalu bermunajat pada Tuhan-Nya.
Di usia ini ada
beberapa perubahan besar dimana saya harus memilih untuk menentukan jalan
hidup, menemukan jati diri, dan belajar berkontribusi
21 target jangka pendek dan panjang ku jika
Tuhan meridhoi, bismillah,
1.
Menjadi muslimah syar’i (01 November 2015)
2. Sholat
tahajud setiap malam (01 November 2015)
3. Sholat
duha tiap hari (01 November 2015)
4. Berusaha
selalu jujur dan sabar (01 November 2015)
5. Wisudawati
terbaik 2015 (desember 2015)
6. Bekerja
di perusahaan peternakan ternama dengan gaji besar (Desember 2015)
7. Renovasi
rumah ortu (2016)
8. Sekolahin
adik (2016)
9. Beli
mobil (2017)
10. Menikah
dengan yang diharap dalam do’a, hehe....(2017)
11. Terbit
buku pertama best seller (2018)
12. Wirausaha
peternakan (2018)
13. Inspirator
muslimah terkenal (2019)
14. Menanggung
ekonomi ortu (2020)
15. Merawat
paman dan bibi
16. Menaikkan
haji ortu
17. Pergi
liburan keluar negeri hanya dengan suami
18. Membangun
yayasan anak yatim piatu
19. Menerbitkan
21 buku inspirasi hidup
20.Menyekolahkan
anak hingga yang dia mau
21.
Menciptakan generasi penerus bangsa yang handal
Banyak pelajaran
yang saya ambil dari perubahan umur setahun yang lalu hingga saya bernafas detk
ini.
Umur 20 tahun saya
masih berstatus pacaran dengan seorang yang pernah saya sayang karena saya
tertarik tampang kerennya, semakin lama saya berfikir hanya bermodal keren saja
tidak cukup tanpa berimbang pada pemahaman agama yang kuat, kecerdasan yang
memadai, dan kemapanan baik lahir atau finansial maupun batinnya sehingga saya memutuskan untuk meninggalkan pacaran, sebenarnya juga karena faktor saya yang ingin berubah menjadi muslimah yang lebih baik, karena memang pacaran bukan hal yang dianjurkan Agama. Alhasil pria itu tidak sefaham dengan prnsip saya dan hubungan 3 tahun itu berubah menjadi silaturahmi biasa, bahkan dia sudah tidak menganggap saya terlahir untuknya. Dulu saya
remaja yang belum mengerti tentang masa depan yang hakiki, namun sekarang saya
tak mau tertipu lagi. Bahkan jika seorang bilang saya terlalu perfeksionis
padahal saya sangat banyak keterbatasan, tak apa. Karena ucapan itu tak
sepenuhnya salah. Saya manusia yang punya banyak kelemahan, maka dari itu saya
berusaha untuk selalu menutupi kelemahan saya dengan melengkapkan seorang insan
yang bisa merubah saya menjadi yang lebih baik. Terkesan egois memang, namun
inilah hati saya berucap tanpa menutupi, karena kemunafikan tak akan membawa
keberuntungan.
Pada usia 21 tahun
ini, saya harus belajar dewasa untuk menyikapi persoalan hidup. Liku hidup
pasti ada disetiap jalan insan termasuk saya, tak jarang ekonomi sebagai pemicu
utamanya, juga termasuk yang saya alami sendiri. Yang paling berkesan dalam
hidup saya, terutama saat kuliah. Setiap saya pulang ke rumah, sekali dua kali
saya tak menangis, sisanya bisa anda hitung. Setiap akan kembali ke kosan saya
harus menyaksikan orang tua berselisih faham masalah keterbatasan uang saku
saya, dan mungkin karena saya terlalu sensitif dan berfikir dalam, ayah dan ibu
saya bertengkar gara-gara saya. Saya merasa bukan menjadi jembatan pemersatu
hati mereka, namun saya angin kencang yang berpotensi besar merobohkan pohon
yang kokoh.
Pada usia ini saya
akan diwisuda, bismillah semoga target menjadi wisudawati terbaik terlaksana. Saya
sadar saat ini hanya ini yang saya bisa lakukan, berusaha semaksimal mungkin
menjadi kebanggaan keluarga, sahabat, serta Negara lewat lembaga pendidikan
dengan jalur bidikmisi (beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu yang insyaallah
berprestasi). Seperti sosok kecil yang
ada di persimpangan, ingin melanjutkan kuliah demi cita-cita jadi dosen
profesional namu belum menemukan pencerahan tentang finansial, atau bekerja
untuk meringankan beban orang tua karena D3 memang diciptakan untuk melahirkan
lulusan profesional siap kerja, namun raga ini belum mampu bergerak ke arah
tertuju.
Di usia ini masih
banyak hal yang perlu saya pertimbangkan matang matang agar saya tidak salah
memilih. Saya hanya ingin menjadi muslimah yang berkontrbusi.
Di akhir tulisan ini, sanya mengucapkan
banyak-banyak terima kasih kepada
-
Orang tua: umi dan romo yang bertaruh segenap
jiwa raga demi hidup saya yang lebih baik
-
Kakak-kakak saya yang selalu mendukung baik
materi maupun motivasi
-
Para sahabat yang selalu membuat hidup ini
lebih berwarna, mengajari tentang cara mempersatukan perbedaan baik sifat
maupun pangkat
-
Serta seorang yang insyaallah selalu saya sebut
dalam do’a selain orang tua dan keluarga saya. Semoga munajat ini segera di
ijabah Yang Maha Kuasa dipersatukan denganmu mengisi kelanjutan hidup dunia dan
akhirat, bismillah untukmu semoga benar menjadi imam yang baik kelak.